Rabu, 19 Juli 2017

SAP Dismenore (Promkes 2017)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik                           : Dismenore
Sub Topik                    : Dismenore pada remaja putri
Hari/Tanggal               : Jum’at, 24 Maret 2017
Waktu                          : 35 menit
Tempat                        : SMAN 13 Bandar Lampung
Penyuluh/Pembicara   : Putriani Rambe
Peserta/Sasaran           : Remaja putri
Karakteristik               : Siswi SMAN 13 Bandar Lampung
Jumlah                        : 20 orang
Tujuan Umum            : Setelah mengikuti pertemuan ini, diharapkan remaja putri siswi
 SMAN 13 Bandar Lampung dapat memahami tentang Dismenore
 yang sering dialami wanita saat menstruasi.
Tujuan Khusus           : Pada akhir pertemuan peserta dapat:
1.      Menjelaskan pengertian Dismenore
2.      Menjelaskan penyebab Dismenore
3.      Menjelaskan tanda dan gejala Dismenore
4.      Menjelaskan penanganan Dismenore
Materi                         : (Terlampir)
1.      Dismenore
2.      Penyebab dismenore
3.      Tanda dan gejala Dismenore
4.      Penanganan Dismenore
Metode                         : Ceramah dan tanya jawab
Media                            : Slide dan Leaflet
Kegiatan                       :

NO
Materi
Kegiatan
1
1.      Pembukaan (5 menit)
1.      Membuka pertemuan dengan mengucapkan salam
2.      Perkenalan
3.      Menjelaskan tentang tujuan umum dan
tujuan khusus pertemuan kali ini
4.      Menyampaikan waktu/kontrak waktu yang
akan digunakan dan mendiskusikannya
dengan peserta pada pertemuan kali ini
5.      Memberikan sedikit gambaran mengenai
informasi yang akan disampaikan pada hari
ini

2
2. Proses (20 menit)
Isi Materi Penyuluhan
1.      Pengertian Dismenore
2.      Penyebab Dismenore
3.       Tanda dan Gejala Dismenore
4.      Penanganan Dismenore
3
3. Evaluasi (8 menit)
1.      Memberikan soal secara lisan kepada peserta secara bergantian
2.      Peserta mengerti seluruh materi penyulihan yang telah diberikan
4
4. Penutup (2 menit)
1.      Penyuluh mengucapkan terima kasih atas segala perhatian peserta
2.      Mengucapkan salam penutup

Lampiran Materi

Pendahuluan
Latar Belakang
             Menstruasi menurut Prawirohardjo (1999) perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai dengan pelepasan endometrium. Walaupun menstruasi datang setiap bulan pada usia reproduksi, banyak wanita yang mengalami ketidaknyamanan fisik selama haid berlangsung.
            Salah satu ketidaknyamanan fisik saat menstruasi yaitu Dismenore. Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. Beberapa wanita bahkan pingsan, keadaan ini muncul cukup hebat sehingga menyebabkan penderita mengalami “kelumpuhan” aktivitas untuk sementara.

Materi
1.      Pengertian Dismenore
            Nyeri haid atau dismenore adalah nyeri yang menyerang/terjadi di perut menjelang atau selama haid. Dalam keadaan yang normal, nyeri haid hanya membuat wanita merasa sakit dan tidak nyaman. Tetapi dalam keadaan yang parah, nyeri haid ini bisa membuat wanita tidak dapat bekerja dan harus beristirahat, nyeri sering bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan dan lekas marah. Ada 2 jenis nyeri haid atau dismenore ini yaitu nyeri haid (dismenore) primer dan nyeri haid (dismenore) sekunder. Nyeri haid primer adalah nyeri menstruasi yang terjadi tanpa adanya kelainan kandungan, sedangkan dismenore sekunder adalah nyeri menstruasi yang terjadi karena adanya kelaianan kandungan.

2.      Penyebab Dismenore
a.       Dismenore primer
Penyebab dari nyeri haid ini belum di temukan secara pasti meski telah banyak penelitian dilakukan untuk mencari penyebabnya. Etiologi dari dismenore primer tersebut adalah:
·         Faktor Psikologis
Biasanya terjadi pada remaja dengan emosi yang tidak stabil, mempunyai ambang nyeri yang rendah, sehingga dekat sedikit rasa nyari dapat merasakan kesakitan.

·         Faktor Endokrin
Pada umumnya hal ini dihubungankan dengan kontraksi usus yang tidak baik. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pengaruh hormonal. Peningkatan produksi prostaglandin akan menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang tidak terkoordinasi sehingga menimbulkan nyeri.

b.      Dismenore sekunder
Dalam dismenore sekunder, etiologi yang mungkin terjadi adalah:
·         Faktor konstitusi seperti anemia, pemakaian kontrasepsi IUD, benjolan yang menyebabkan pendarahan, tumor atau fibroid.
·         Anomali uterus konginental, seperti : rahim yang terbalik, peradangan selaput lendir rahim.

3.      Tanda dan Gejala Dismenore
Dismenore dapat ditandai dengan gejala sebagai berikut:
1.      Nyeri pada perut bagian bawah
2.      Nyeri dirasakan sebagai kram yang timbul hilang atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
3.      Nyeri mulai timbul sesaat sesudah atau selama haid, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
4.      Dismenore juga sering disertai dengan sakit kepala, mual, sembelit, atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

4.      Penanganan Dismenore
                Ada berbagai cara untuk mengurangi rasa sakit nyeri haid ini mulai dari makanan tertentu hingga berbagai latihan ini juga tidak hanya mengatasi tetapi juga dapat mencegah agar jangan sampai sakit terus setiap saat haid.
1.      Istirahat cukup
2.      Olahraga teratur (terutama jalan)
3.      Pemijatan
4.      Kompres hangat diarea sekitar perut
5.      Minum banyak air putih, hindari konsumsi garam berlebih serta kafein untuk mencegah pembengkakan dan retensi cairan.
6.      Makan makanan kaya zat besi, kalsium, vitamin B kompleks seperti susu, sayuran hijau.

Evaluasi:

1.      Jenis                : tanya jawab
2.      Bentuk             : lisan
3.      Jumlah              : 6 butir


4.      Pertanyaan      :
a. Jelaskan pengertian Dismenore?
b. Sebutkan tanda dan gejala dari Dismneore!
c. Sebutkan cara mengatasi Dismenore!

Jawaban:
a.       Nyeri haid atau dismenore adalah nyeri yang menyerang/terjadi di perut menjelang atau selama haid

b.      Tanda dan Gejala Dismenore
Dismenore dapat ditandai dengan gejala sebagai berikut:
1.      Nyeri pada perut bagian bawah
2.      Nyeri dirasakan sebagai kram yang timbul hilang atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
3.      Nyeri mulai timbul sesaat sesudah atau selama haid, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
4.      Dismenore juga sering disertai dengan sakit kepala, mual, sembelit, atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

c.       Beberapa cara mengatasi Dismenore, yaitu:
1.      Istirahat cukup
2.      Olahraga teratur (terutama jalan)
3.      Pemijatan
4.      Kompres hangat diarea sekitar perut
5.      Minum banyak air putih, hindari konsumsi garam berlebih serta kafein untuk mencegah pembengkakan dan retensi cairan.
6.      Makan makanan kaya zat besi, kalsium, vitamin B kompleks seperti susu, sayuran hijau.

Sumber
1.Kumalasari, Intan.2012.Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika


Selasa, 13 Juni 2017

Fieldtrip angkatan 10 2017









capping day akbid adila 2017



makalah pendidikan dan penyuluhan kesehatan

MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PENDIDIKAN DAN PENYULUHAN KESEHATAN



Disusun oleh: Kelompok 6
1.      FENTI YOSSI
2.      FRISCI ELIYA ELISABET S.
3.      PUTRIANI RAMBE
4.      RANTIKA WIDIANI
5.      RATIH DWI ELITA

AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan kudrah dan iradah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan.
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan diutusnya beliau ke permukaan bumi ini telah membawa rahmat bagi sekalian alam.
Dalam kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sustiana, SKM selaku dosen pengampu mata kuliah ilmu kesehatan masyarakat yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini yang membahas mengenai Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan
Dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kejanggalan dan kekurangan, maka dengan penuh harapan kami semua pihak penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini.




Bandar lampung,  28 Januari 2017


Penulis




KATA PENGANTAR.................................................................................................       i
DAFTAR ISI .............................................................................................................       ii
BAB I. PENDAHULUAN .........................................................................................       1
A.    Latar Belakang.....................................................................................................       1
B.     Rumusan Masalah................................................................................................       1
C.     Tujuan...................................................................................................................       2

  BAB II. PEMBAHASAN..........................................................................................       3
A.     Definisi Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan................................................       3
B.     Perbedaan Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan ...........................................       4
C.     Prinsip Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan .................................................       4
D.    Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan     ..........................................................       5
E.     Metode Pendidikan Kesehatan...........................................................................       8
F.      Alat Bantu Pendidikan Kesehatan......................................................................       15
G.    Perilaku Kesehatan.............................................................................................       17
H.    Domain Perilaku................................................................................................       19
I.       Perubahan Perilaku.............................................................................................      21

BAB III. PENUTUP..................................................................................................       23
A.    Kesimpulan...........................................................................................................       23 
B.     Saran.....................................................................................................................       23

DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998).
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan masyarakat . Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan kepada seseorang oleh orang lain, bukan seperangkat prosedur yang harus dilaksanakan atau suatu produk yang harus dicapai, tetapi sesungguhnya merupakan suatu proses perkembangan yang berubah secara dinamis, yang didalamnya
seseorang menerima atau menolak informasi, sikap, maupun praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat (Suliha, dkk., 2002).        

B.     Rumusan Masalah
a.       Definisi pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan?
b.      Perbedaan pendidikan dan penyuluhan kesehatan?
c.       Prinsip pendidikan dan penyuluhan kesehatan?
d.      Ruang lingkup pendidikan kesehatan?
e.       Metode pendidikan kesehatan?
f.       Alat bantu atau media
g.      Prilaku kesehatan
h.      Domain prilaku kesehatan
i.        Perubahan prilaku
j.        Bentuk prilaku



C.     Tujuan
a.                  Dapat menjelaskan pengertian pendidikan kesehatan.
b.                  Dapat menjelaskan pengertian penyuluhanan kesehatan.
c.                  Dapat menyebutkan perbedaan pendidikan dan penyuluhan kesehatan.
d.                 Dapat menyebutkan prinsip pendidikan dan penyuluhan kesehatan.
e.                  Mengetahui ruang lingkup pendidikan kesehatan.
f.                   Mengetahui metode pendidikan kesehatan.
g.                  Mengetahui alat bantu atau media dalam pendidikan kesehatan.
h.                  Menjelaskan prilaku kesehatan.
i.                    Mengetahui domain prilaku kesehatan
j.                    Menyebutkan perubahan prilaku.
k.                  Menyebutkan bentuk prilaku.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatan individu. Kesempatan yang direncanakan untuk individu, kelompok atau masyarakat agar belajar tentang kesehatan dan melakukan perubahan-peubahan secara suka rela dalam tingkah laku individu (Entjang, 1991)
Wood dikutip dari Effendi (1997), memberikan pengertian pendidikan kesehatan merupakan sejumlah pengalaman yang pengaruh menguntungkan secara kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang ada hubungannya dengan kesehatan perseorangan, masyarakat dan bangsa. Kesemuannya ini, dipersiapkan dalam rangka mempermudah diterimannya secara suka rela perilaku yang akan meningkatkan dan memelihara kesehatan.
Pengertian penyuluhan kesehatan sama dengan pendidikan kesehatan masyarakat (Public Health Education), yaitu suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik.Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.
Penyuluhan kesehatan juga suatu proses, dimana proses tersebut mempunyai masukan (input) dan keluaran (output).(Notoatmodjo, 2003)

B.     Perbedaan Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan
No.
Penyuluhan Kesehatan
Pendidikan Kesehatan
1
Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Dapat dilakukan oleh siapa saja yang mengerti tentang kesehatan.
2
Dilakukan dalam asuhan keperawatan.
Tidak harus dalam asuhan keperawatan.
3
Dalam pelaksanaan diberikan di depan  kelompok atau masyarakat.
Dapat dilaksanakan hanya di depan individu (satu orang).
4
Bersifat umum.
Dapat bersifat umum dan pribadi.

C.     Prinsip Pendidikan Dan Penyuluhan Kesehatan
Prinsip pendidikan dan penyuluhan kesehatan antara lain:
1.      Pendidikan dan penyuluhan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas atau di tempat pelayanan kesehatan, tetapi merupakan kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan.
2.      Pendidikan dan penyuluhan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
3.      Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
4.      Pendidikan  dan penyuluhan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

D.    Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan.
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya, dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan.

Dari dimensi sasarannya,pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi 3 yakni :
a.       Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu.
b.      Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok.
c.       Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.

Dimensi tempat pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung di berbagai tempat, dengan sendirinya sasarannya berbeda pula, misalnya :
a.       Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
b.      Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah-rumah sakit dengan
sasaran pasien atau keluarga pasien, di puskesmas, dan sebagainya.
c.       Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang bersangkutan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi91pxaQMU54TjXkOOiycZdAuKWuoAibbU0u6X9aJEiAdcwpewphz_6cHajRF1UzpFFodgQ1jU9cHvnOfKWgbiY12ug_Jb1_FYr8Yz3mNSsKqOdZR7EqAlqs2tvSlU7TEMR3cyEI6NBSev4/s1600/penkes.jpg

Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel dan Clark, sebagai berikut :
a.       Promosi kesehatan (health promotion)
Dalam tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan, hygiene perorangan, dan sebagainya.
b.      Perlindungan khusus (specific protection)
Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini  pendidikan kesehatan sangat diperlukan terutama di negara-negara berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya maupun pada anak-anaknya masih rendah.
c.       Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap  kesehatan dan penyakit maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang  terjadi di masyarakat. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Oleh sebab itu pendidikan  kesehatan sangat diperlukan pada tahap ini.
d.      Pembatasan cacat (disability limitation)
Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini.
e.       Rehabilitasi (rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang  tersebut, ia tidak atau segan melakukan latihan-latihan yang dianjurkan.
Disamping itu orang yang cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut tetapi juga perlu pendidikan kesehatan kepada masyarakat.

E.     Metode Pendidikan Kesehatan
1. Metode Pendidikan Individual (Perorangan)
Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi TT karena baru saja memperoleh / mendengarkan penyuluhan kesehatan.

Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor yang lestari atau ibu hamil tersebut segera minta imunisasi maka harus didekati perorangan. Perorangan disini tidak hanya berarti kepada ibu-ibu yang bersangkutan tetapi mungkin juga kepada suami atau keluarga dari ibu tersebut.

Dasar digunakannya pendekatan individual ini disebabkan karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui dengan tepat serta membantunya maka perlu menggunakan metode (cara ini).

Bentuk dari pendekatan ini, antara lain :
1.1 Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance and Counseling)
Dengan cara ini, kontak antara klien dengan petugas lebih intensif, setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh perhatian, akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku).

1.2 Interview (Wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian atau kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
2. Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

2.1 Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain

2.1.1 Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah :
2.1.1.1 Persiapan
Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai materi dari yang akan diceramahkan. Untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri dengan :
a. Mempelajari materi dengan sistematika yang baik, lebih baik lagi kalau disusun
    dalam diagram atau skema.
b. Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran misalnya makalah singkat, slide,
    transparan, sound system, dan sebagainya.

2.1.1.2 Pelaksanaan 
Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramah tersebut dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai sasaran (dalam arti psikologis), penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan  gelisah.
b. Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
c. Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
d. Berdiri di depan (di pertengahan), tidak boleh duduk.
e. Menggunakan alat-alat bantu (AVA) semaksimal mungkin.

2.1.2 Seminar 
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat.

2.2 Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil antara lain :

2.2.1 Diskusi Kelompok
Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi empat.
Pimpinan diskusi / penyuluh juga duduk diantara peserta sehingga tidak menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Tepatnya mereka dalam taraf yang sama sehingga tiap anggota kelompok ada kebebasan / keterbukaan untuk mengeluarkan pendapat.

Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-pancingan berupa pertanyaan-pertanyaan atas kasus sehubungan dengan topik yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup, pemimpin kelompok harus mengarahkan dan mengatur sedemikian rupa sehingga semua orang dapat kesempatan berbicara sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta.

2.2.2 Curah Pendapat (Brain Storming) 
Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah kemudian tiap peserta memberikan jawaban-jawaban atau tanggapan (cara pendapat).

Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh diberi komentar oleh siapa pun. baru setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan akhirnya terjadilah diskusi.

2.2.3 Bola Salju (Snow Balling)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang, 2 orang). Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit, tiap 2 pasang bergabung menjadi 1.Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut dan mencari kesimpulannya.Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.

2.2.4 Kelompok Kecil-Kecil (Bruzz Group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil (buzz group) kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama / tidak dengan kelompok lain dan masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.

2.2.5 Memainkan Peranan (Role Play) 
Dalam metode ini, beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau anggota masyarakat. Mereka meragakan misalnya bagaimana interaksi / komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.

2.2.6 Permainan Simulasi (Simulation Game) 
Metode ini adalah merupakan gambaran antara role play dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), selain beberan atau papan main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lagi berperan sebagai nama sumber.
3. Metode Pendidikan Massa (Public)
Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik maka cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.

Oleh karena sasaran pendidikan ini bersifat umum dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya maka pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut.

Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah awareness atau kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi, belum begitu diharapkan sampai dengan perubahan perilaku. Namun demikian bila sudah sampai berpengaruh terhadap perubahan perilaku adalah wajar.

Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Beberapa contoh metode ini, antara lain :
a.       Ceramah umum (public speaking)
Pada acara-acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional, menteri kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya berpidato di hadapan massa rakyat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Safari KB juga merupakan salah satu bentuk pendekatan massa.
b.      Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV
maupun radio, pada hakekatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
c.       Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa. Contoh "Praktek Dokter Herman Susilo" di televisi pada waktu yang lalu.
d.      Sinetron "Dokter Sartika" didalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan
            pendidikan kesehatan massa.
e.       Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab / konsultasi tentang kesehatan atau penyakit juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan massa.
f.       Billboard yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh billboard "Ayo ke Posyandu"

Alat bantu lihat (visual aids). Alat bantu ini digunakan untuk membantu menstimulasi indera mata (penglihatan) pada waktu terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk :
1.      Alat yang diproyeksikan (misalnya, slide, OHP, dan film strip)
2.      Alat-alat yang tidak diproyeksikan (misalnya, 2 dimensi, gambar peta, dan bagan) termasuk alat bantu cetak atau tulis, misalnya leafet, poster, lembar balik, dan buklet. Termasuk tiga dimensi seperti bola dunia dan boneka).

Alat bantu dengar (audio aids), yaitu alat yang dapat membantu untuk menstimulasikan indra pendengar pada waktu proses penyampaian bahan pendidikan/bahan pengajaran. Misalnya : piring hitam, radio, tape, dan CD. Alat bantu dengar dan lihat, seperti TV, film dan video.
  Pembagian Alat Peraga:
·         Media cetak
1.      Booklet. Media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar.
2.      Leaflet. Bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat.Isi informasi dapat berupa kalimat, gambar, atau kombinasi.
3.      Flyer (selebaran), bentuk seperti leaflet, tetapi tidak dilipat.
4.      Flip chart (lembar balik), biasanya dalam bentuk buku, setiap lembar (halaman) berisi gambar yang diinformasikan dan lembar baliknya (belakangnya) berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut
5.      Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan
6.      Poster. Bentuk media yang berisi pesan-pesan atau informasi kesehatan yang biasanya ditempel didinding, tempat-tempat umum, atau kendaraan umum.Biasanya isinya bersifat pemberitahuan dan propaganda.
7.      Foto yang mengungkap informasi kesehatan

·         Media elektronik
Jenis-jenis media elektronik yang dapat digunakan sebagai media pendidikan kesehatan, antara lain adalah sebagai berikut.
1.      Televisi. Penyampaian pesan kesehatan melalui media televisi dapat berbentuk sandiwara, sinetron, forum diskusi, pidato (ceramah), TV spot, dan kuis atau cerdas cermat.
2.      Radio. Bentuk penyampaian informasi diradio dapat berupa obrolan (tanya jawab), konsultasi kesehatan, sandiwara radio, dan radio spot.
3.      Video. Penyampaian informasi kesehatan melalui video.
4.      Slide. Slide dapat juga digunakan untuk menyampaikan informasi kesehatan.
5.      Film strip.
·         Media papan (billboard)
Media papan yang dipasang ditempat-tempat umum dapat diisi pesan-pesan atau informasi kesehatan.Media ini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng dan ditempel di kendaraan umum (bus dan taksi).
·         Media hiburan
Penyampaian informasi kesehatan dapat dilakukan melalui media hiburan, baik di luar gedung (panggung terbuka) maupun dalam gedung, biasanya dalam bentuk dongeng, sosiodrama, kesenian tradisional, dan pameran.

G.    PERILAKU KESEHATAN
Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
1.      Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)
Usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3 aspek :
a.       Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit
b.      Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.
c.       Perilaku gizi (makanan dan minuman)

2.      Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan
Upaya seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan.Dimulai dari pengobatan sendiri sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
3.       Perilaku kesehatan lingkungan
Becker, 1979 membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan, diantaranya :
a.       Prilaku hidup sehat
Kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup :
1.      Menu seimbang
2.      Olahraga teratur
3.      Tidak merokok
4.      Tidak meminum-minuman keras dan narkoba
5.      Istirahat yang cukup
6.      Mengendalikan stress
7.      Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.
8.      Perilaku sakit
Respon seseorang terhadap sakit dan penyakit.Persepsinya terhadap sakit pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dsb.
b.      Perilaku peran sakit

Perilaku ini mencakup :
1.      Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
2.      Mengenal atau mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak.
3.      Mengetahui hak, misalnya memperoleh perawatan.


H.    DOMAIN PERILAKU
Factor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan prilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni :
1.      Faktor internal
Karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan, yaitu :
a.       Kecerdasan
b.      Tingkat emosional
c.       Jenis kelamin
2.      Faktor eksternal
Lingkungan baik fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
Benyamin Bloom (1908), perilaku dibagi kedalam 3 dominan, yakni :
a.       Kognitif
b.       Afektif
c.       Psikomotor
Teori Bloom untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan yakni :
1.      Pengetahuan
Domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang, ialah :
a.       Proses adopsi perilaku
·         Awareness
·         Interest
·         Evaluation
·         Trial
·         Adoption
b.      Tingkatan pengetahuan
·         Tahu
·         Memahami
·         Aplikasi
·         Analisis
·         Sintesis
·         Evaluasi
2.      Sikap
Adalah respon tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Proses terbentuknya sikap dan reaksi, yaitu :
a.       Komponen pokok sikap
Menurut Allport (1954), ialah :
1.      Kepercayaan ide, dan konsep terhadap suatu objek
2.      Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3.      Kecenderungan untuk bertindak
b.      Berbagai tingkatan sifat
1.      Menerima (receiving)
2.      Merespon (responding)
3.      Menghargai (valuing)
4.      Bertanggungjawab (responsible)
c.       Praktek atau tindakan (practice)
Mempunyai beberapa tingkatan :
1.      Persepsi (perception)
2.      Respon terpimpin (guid response)
3.      Mekanisme (mechanism)
4.      Adopsi (adoption)
I.       PERUBAHAN PERILAKU
Proses yang kompleks dan memerlukan waktu yang relative lama. Teori perubahan ada 3 tahap :
1.      Pengetahuan
Dikelompokan menjadi :
a.       Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
b.      Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan
c.       Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan
2.      Sikap
Dikelompokan menjadi :
a.       Sikap terhadap sakit dan penyakit
b.      Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
c.       Sikap terhadap kesehatan lingkungan
3.      Praktek Dan Tindakan
Indikatornya yakni :
a.       Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit
b.      Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
c.       Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada dasarnya, setiap orang baik itu individu, keluarga, kelompok atau pun masyarakat, membutuhkan penyuluhan dan pendidikan kesehatan. Oleh karena itu para pekerja pelayanan kesehatan harus memberikan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat. Namun, hal itu baru dapat dikatakan berhasil apabila pendidikan yang diberikan sudah dapat mengubah sikap dan tingkah laku sasaran pendidikan tersebut. Terlebih dari itu semua, sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.

B.     Saran
Para pekerja layanan kesehatan, seharusnya lebih memperhatikan kesehatan masyarakat, baik itu di lingkungan kerja atau dilingkungan tempat tinggalnya.














DAFTAR PUSTAKA

·         Denman, S. (2002) The Health Promoting School: Policy, Research and Practice. London : Routledge16.
·         Effendi, Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.Edisi 2. Jakarta : EGC.
·         Entjang, I. 1991. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
·         Mubarak, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Salemba Medika.
·         Notoatmodjo, Soekidjo.2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat ; Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta : Rineka Cipta
·         Smith, J. (2003). Education and Public Health: Natural Partners in Learning for Life. Association for  Supervision and Curriculum Development (ASCD). USA: Alexandra, Virginia.



LTA LTA PUTRIANI RAMBE