Good Midwife
Rabu, 16 Januari 2019
Rabu, 19 Juli 2017
SAP Dismenore (Promkes 2017)
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Dismenore
Sub Topik : Dismenore pada remaja
putri
Hari/Tanggal : Jum’at, 24 Maret 2017
Waktu : 35 menit
Tempat : SMAN 13 Bandar Lampung
Penyuluh/Pembicara : Putriani
Rambe
Peserta/Sasaran : Remaja putri
Karakteristik : Siswi SMAN 13 Bandar Lampung
Jumlah : 20 orang
Tujuan
Umum : Setelah mengikuti
pertemuan ini, diharapkan remaja putri siswi
SMAN 13 Bandar Lampung dapat memahami
tentang Dismenore
yang sering dialami wanita saat menstruasi.
Tujuan
Khusus : Pada akhir pertemuan peserta dapat:
1.
Menjelaskan pengertian Dismenore
2.
Menjelaskan penyebab Dismenore
3.
Menjelaskan tanda dan gejala Dismenore
4.
Menjelaskan penanganan Dismenore
Materi : (Terlampir)
1. Dismenore
2. Penyebab
dismenore
3. Tanda
dan gejala Dismenore
4. Penanganan
Dismenore
Metode : Ceramah dan tanya jawab
Media : Slide dan Leaflet
Kegiatan :
|
NO
|
Materi
|
Kegiatan
|
|
1
|
1. Pembukaan
(5 menit)
|
1.
Membuka pertemuan dengan
mengucapkan salam
2.
Perkenalan
3.
Menjelaskan tentang tujuan umum
dan
tujuan
khusus pertemuan kali ini
4.
Menyampaikan waktu/kontrak waktu
yang
akan
digunakan dan mendiskusikannya
dengan
peserta pada pertemuan kali ini
5.
Memberikan sedikit gambaran
mengenai
informasi
yang akan disampaikan pada hari
ini
|
|
2
|
2.
Proses (20 menit)
|
Isi Materi Penyuluhan
1. Pengertian
Dismenore
2. Penyebab
Dismenore
3. Tanda dan Gejala Dismenore
4. Penanganan
Dismenore
|
|
3
|
3.
Evaluasi (8 menit)
|
1. Memberikan
soal secara lisan kepada peserta secara bergantian
2.
Peserta mengerti seluruh materi
penyulihan yang telah diberikan
|
|
4
|
4.
Penutup (2 menit)
|
1.
Penyuluh mengucapkan terima kasih
atas segala perhatian peserta
2.
Mengucapkan salam penutup
|
Lampiran Materi
Pendahuluan
Latar Belakang
Menstruasi menurut
Prawirohardjo (1999) perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,
disertai dengan pelepasan endometrium. Walaupun menstruasi datang setiap bulan
pada usia reproduksi, banyak wanita yang mengalami ketidaknyamanan fisik selama
haid berlangsung.
Salah satu ketidaknyamanan fisik saat menstruasi yaitu
Dismenore. Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan
terjadi selama menstruasi. Beberapa wanita bahkan pingsan, keadaan ini muncul
cukup hebat sehingga menyebabkan penderita mengalami “kelumpuhan” aktivitas
untuk sementara.
Materi
1.
Pengertian Dismenore
Nyeri haid atau dismenore
adalah nyeri yang menyerang/terjadi di perut menjelang atau selama haid. Dalam
keadaan yang normal, nyeri haid hanya membuat wanita merasa sakit dan tidak
nyaman. Tetapi dalam keadaan yang parah, nyeri haid ini bisa membuat wanita
tidak dapat bekerja dan harus beristirahat, nyeri sering bersamaan dengan rasa
mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan dan lekas marah. Ada 2 jenis nyeri
haid atau dismenore ini yaitu nyeri haid (dismenore) primer dan nyeri haid
(dismenore) sekunder. Nyeri haid primer adalah nyeri menstruasi yang terjadi
tanpa adanya kelainan kandungan, sedangkan dismenore sekunder adalah nyeri
menstruasi yang terjadi karena adanya kelaianan kandungan.
2.
Penyebab Dismenore
a.
Dismenore primer
Penyebab
dari nyeri haid ini belum di temukan secara pasti meski telah banyak penelitian
dilakukan untuk mencari penyebabnya. Etiologi dari dismenore primer tersebut
adalah:
·
Faktor Psikologis
Biasanya
terjadi pada remaja dengan emosi yang tidak stabil, mempunyai ambang nyeri yang
rendah, sehingga dekat sedikit rasa nyari dapat merasakan kesakitan.
·
Faktor Endokrin
Pada umumnya
hal ini dihubungankan dengan kontraksi usus yang tidak baik. Hal ini sangat
erat kaitannya dengan pengaruh hormonal. Peningkatan produksi prostaglandin akan
menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang tidak terkoordinasi sehingga
menimbulkan nyeri.
b.
Dismenore sekunder
Dalam dismenore
sekunder, etiologi yang mungkin terjadi adalah:
·
Faktor konstitusi seperti anemia, pemakaian
kontrasepsi IUD, benjolan yang menyebabkan pendarahan, tumor atau fibroid.
·
Anomali uterus konginental, seperti : rahim yang
terbalik, peradangan selaput lendir rahim.
3.
Tanda dan Gejala Dismenore
Dismenore
dapat ditandai dengan gejala sebagai berikut:
1. Nyeri pada
perut bagian bawah
2. Nyeri
dirasakan sebagai kram yang timbul hilang atau sebagai nyeri tumpul yang terus
menerus ada.
3. Nyeri mulai
timbul sesaat sesudah atau selama haid, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam
dan setelah 2 hari akan menghilang.
4.
Dismenore juga sering disertai dengan sakit kepala,
mual, sembelit, atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.
4.
Penanganan Dismenore
Ada
berbagai cara untuk mengurangi rasa sakit nyeri haid ini mulai dari makanan
tertentu hingga berbagai latihan ini juga tidak hanya mengatasi tetapi juga
dapat mencegah agar jangan sampai sakit terus setiap saat haid.
1. Istirahat
cukup
2. Olahraga
teratur (terutama jalan)
3. Pemijatan
4. Kompres
hangat diarea sekitar perut
5. Minum banyak
air putih, hindari konsumsi garam berlebih serta kafein untuk mencegah
pembengkakan dan retensi cairan.
6.
Makan makanan kaya zat besi, kalsium, vitamin B
kompleks seperti susu, sayuran hijau.
Evaluasi:
1.
Jenis
: tanya jawab
2.
Bentuk : lisan
3.
Jumlah : 6 butir
4.
Pertanyaan :
a. Jelaskan pengertian Dismenore?
b. Sebutkan tanda dan
gejala dari Dismneore!
c. Sebutkan cara
mengatasi Dismenore!
Jawaban:
a.
Nyeri haid atau
dismenore adalah nyeri yang menyerang/terjadi di perut menjelang atau selama
haid
b.
Tanda dan Gejala Dismenore
Dismenore
dapat ditandai dengan gejala sebagai berikut:
1.
Nyeri pada perut bagian bawah
2.
Nyeri dirasakan sebagai kram yang timbul hilang atau
sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
3.
Nyeri mulai timbul sesaat sesudah atau selama haid,
mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
4.
Dismenore juga sering disertai dengan sakit kepala,
mual, sembelit, atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.
c.
Beberapa cara mengatasi Dismenore, yaitu:
1.
Istirahat cukup
2.
Olahraga teratur (terutama jalan)
3.
Pemijatan
4.
Kompres hangat diarea sekitar perut
5.
Minum banyak air putih, hindari konsumsi garam
berlebih serta kafein untuk mencegah pembengkakan dan retensi cairan.
6.
Makan makanan kaya zat besi, kalsium, vitamin B
kompleks seperti susu, sayuran hijau.
Sumber
1.Kumalasari,
Intan.2012.Kesehatan Reproduksi Untuk
Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika
Selasa, 13 Juni 2017
makalah pendidikan dan penyuluhan kesehatan
MAKALAH ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT
PENDIDIKAN DAN PENYULUHAN KESEHATAN

Disusun
oleh: Kelompok 6
1.
FENTI YOSSI
2.
FRISCI ELIYA
ELISABET S.
3.
PUTRIANI RAMBE
4.
RANTIKA WIDIANI
5.
RATIH DWI ELITA
AKADEMI
KEBIDANAN ADILA
BANDAR
LAMPUNG
TAHUN
2017
KATA PENGANTAR
Dengan
mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan kudrah dan
iradah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan.
Shalawat dan salam kita sampaikan
kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan diutusnya beliau ke permukaan bumi ini
telah membawa rahmat bagi sekalian alam.
Dalam
kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sustiana, SKM selaku dosen pengampu mata kuliah ilmu kesehatan masyarakat yang
telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini yang
membahas mengenai Pendidikan dan
Penyuluhan Kesehatan
Dalam
penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kejanggalan
dan kekurangan, maka dengan penuh harapan kami semua pihak penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan makalah ini.
Bandar lampung, 28
Januari 2017
Penulis
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
A.
Latar Belakang..................................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................................ 1
C.
Tujuan................................................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN.......................................................................................... 3
A.
Definisi Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan................................................ 3
B.
Perbedaan Pendidikan dan Penyuluhan
Kesehatan ........................................... 4
C.
Prinsip Pendidikan dan Penyuluhan
Kesehatan ................................................. 4
D.
Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan .......................................................... 5
E.
Metode Pendidikan Kesehatan........................................................................... 8
F.
Alat Bantu Pendidikan Kesehatan...................................................................... 15
G.
Perilaku
Kesehatan............................................................................................. 17
H.
Domain Perilaku................................................................................................ 19
I.
Perubahan
Perilaku............................................................................................. 21
BAB III. PENUTUP.................................................................................................. 23
A.
Kesimpulan........................................................................................................... 23
B.
Saran..................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang
dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga
masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan
kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan
prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu,
keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu
bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan
maupun secara kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998).
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri
seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan
masyarakat . Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan kepada seseorang oleh
orang lain, bukan seperangkat prosedur yang harus dilaksanakan atau suatu
produk yang harus dicapai, tetapi sesungguhnya merupakan suatu proses
perkembangan yang berubah secara dinamis, yang didalamnya
seseorang menerima atau menolak informasi, sikap, maupun
praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat (Suliha, dkk., 2002).
B.
Rumusan Masalah
a.
Definisi pendidikan kesehatan dan
penyuluhan kesehatan?
b.
Perbedaan pendidikan dan penyuluhan
kesehatan?
c.
Prinsip pendidikan dan penyuluhan
kesehatan?
d.
Ruang lingkup pendidikan kesehatan?
e.
Metode pendidikan kesehatan?
f.
Alat bantu atau media
g.
Prilaku kesehatan
h.
Domain prilaku kesehatan
i.
Perubahan prilaku
j.
Bentuk prilaku
C.
Tujuan
a.
Dapat menjelaskan pengertian
pendidikan kesehatan.
b.
Dapat menjelaskan pengertian
penyuluhanan kesehatan.
c.
Dapat menyebutkan perbedaan
pendidikan dan penyuluhan kesehatan.
d.
Dapat menyebutkan prinsip pendidikan
dan penyuluhan kesehatan.
e.
Mengetahui ruang lingkup pendidikan
kesehatan.
f.
Mengetahui metode pendidikan
kesehatan.
g.
Mengetahui alat bantu atau media
dalam pendidikan kesehatan.
h.
Menjelaskan prilaku kesehatan.
i.
Mengetahui domain prilaku kesehatan
j.
Menyebutkan perubahan prilaku.
k.
Menyebutkan bentuk prilaku.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Pendidikan Dan Penyuluhan
Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu
meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatan individu. Kesempatan yang
direncanakan untuk individu, kelompok atau masyarakat agar belajar tentang
kesehatan dan melakukan perubahan-peubahan secara suka rela dalam tingkah laku
individu (Entjang, 1991)
Wood dikutip dari Effendi (1997), memberikan pengertian
pendidikan kesehatan merupakan sejumlah pengalaman yang pengaruh menguntungkan
secara kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang ada hubungannya dengan kesehatan
perseorangan, masyarakat dan bangsa. Kesemuannya ini, dipersiapkan dalam rangka
mempermudah diterimannya secara suka rela perilaku yang akan meningkatkan dan
memelihara kesehatan.
Pengertian penyuluhan kesehatan sama dengan pendidikan
kesehatan masyarakat (Public Health Education), yaitu suatu kegiatan atau usaha
untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu.
Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut atau individu dapat
memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik.Akhirnya pengetahuan
tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Dengan kata lain,
dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan
perilaku sasaran.
Penyuluhan
kesehatan juga suatu proses, dimana proses tersebut mempunyai masukan (input) dan
keluaran (output).(Notoatmodjo, 2003)
B.
Perbedaan Pendidikan Dan Penyuluhan
Kesehatan
|
No.
|
Penyuluhan Kesehatan
|
Pendidikan Kesehatan
|
|
1
|
Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
|
Dapat dilakukan oleh siapa saja yang mengerti tentang
kesehatan.
|
|
2
|
Dilakukan
dalam asuhan keperawatan.
|
Tidak
harus dalam asuhan keperawatan.
|
|
3
|
Dalam pelaksanaan diberikan di depan kelompok atau masyarakat.
|
Dapat dilaksanakan hanya di depan individu (satu orang).
|
|
4
|
Bersifat
umum.
|
Dapat
bersifat umum dan pribadi.
|
C.
Prinsip Pendidikan Dan Penyuluhan
Kesehatan
Prinsip
pendidikan dan penyuluhan kesehatan antara lain:
1.
Pendidikan dan penyuluhan kesehatan bukan hanya pelajaran di
kelas atau di tempat pelayanan kesehatan, tetapi merupakan kumpulan pengalaman
dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan
kebiasaan sasaran pendidikan.
2.
Pendidikan dan penyuluhan kesehatan tidak dapat secara mudah
diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran
pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya
sendiri.
3.
Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan
sasaran agar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan
tingkah lakunya sendiri.
4.
Pendidikan dan
penyuluhan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
D.
Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan.
Ruang lingkup pendidikan kesehatan
dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran pendidikan,
dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya, dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan.
Dari
dimensi sasarannya,pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi 3 yakni :
a.
Pendidikan kesehatan individual dengan
sasaran individu.
b.
Pendidikan kesehatan kelompok dengan
sasaran kelompok.
c.
Pendidikan kesehatan masyarakat dengan
sasaran masyarakat luas.
Dimensi tempat pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat
berlangsung di berbagai tempat, dengan sendirinya sasarannya berbeda pula,
misalnya :
a.
Pendidikan kesehatan di sekolah,
dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
b.
Pendidikan kesehatan di rumah sakit,
dilakukan di rumah-rumah sakit dengan
sasaran pasien atau keluarga pasien, di
puskesmas, dan sebagainya.
c.
Pendidikan kesehatan di tempat-tempat
kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang bersangkutan.
Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan
dapat dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan (five levels of prevention)
dari Leavel dan Clark, sebagai berikut :
a.
Promosi kesehatan (health promotion)
Dalam tingkat ini
pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi,
kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan, hygiene perorangan, dan
sebagainya.
b.
Perlindungan khusus (specific
protection)
Dalam program imunisasi
sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan
terutama di negara-negara berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat
tentang pentingnya imunisasi sebagai perlindungan terhadap
penyakit pada dirinya maupun pada anak-anaknya masih rendah.
c.
Diagnosis dini dan pengobatan segera
(early diagnosis and prompt treatment)
Dikarenakan rendahnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap
kesehatan dan penyakit maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit
yang terjadi di masyarakat. Bahkan kadang-kadang
masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Hal ini akan
menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Oleh
sebab itu pendidikan kesehatan sangat
diperlukan pada tahap ini.
d.
Pembatasan cacat (disability limitation)
Oleh karena kurangnya
pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit maka sering
masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain
mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan
yang komplit terhadap penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna
dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidakmampuan. Oleh
karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini.
e.
Rehabilitasi (rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu
penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya
tersebut kadang-kadang diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena
kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak atau segan
melakukan latihan-latihan yang dianjurkan.
Disamping itu orang yang
cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang-kadang malu untuk kembali ke
masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai
anggota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan
diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut tetapi juga perlu
pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
E. Metode Pendidikan
Kesehatan
1. Metode
Pendidikan Individual (Perorangan)
Dalam
pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan
untuk membina perilaku baru atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada
suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya seorang ibu yang baru saja
menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi
TT karena baru saja memperoleh / mendengarkan penyuluhan kesehatan.
Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor
yang lestari atau ibu hamil tersebut segera minta imunisasi maka harus didekati
perorangan. Perorangan disini tidak hanya berarti kepada ibu-ibu yang
bersangkutan tetapi mungkin juga kepada suami atau keluarga dari ibu tersebut.
Dasar digunakannya pendekatan individual ini disebabkan
karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan
dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan
mengetahui dengan tepat serta membantunya maka perlu menggunakan metode (cara
ini).
1.1
Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance and Counseling)
Dengan cara ini, kontak antara klien dengan petugas lebih
intensif, setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu
penyelesaiannya. Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan
kesadaran, penuh perhatian, akan menerima perilaku tersebut (mengubah
perilaku).
1.2 Interview (Wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan
penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali
informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui
apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar
pengertian atau kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang
lebih mendalam lagi.
2. Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus mengingat
besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk
kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas
suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.
2.1 Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta
penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini,
antara lain
2.1.1
Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi
maupun rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah
:
2.1.1.1
Persiapan
Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri
menguasai materi dari yang akan diceramahkan. Untuk itu penceramah harus
mempersiapkan diri dengan :
a.
Mempelajari materi dengan sistematika yang baik, lebih baik lagi kalau disusun
dalam diagram atau skema.
b.
Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran misalnya makalah singkat, slide,
transparan, sound system, dan sebagainya.
2.1.1.2
Pelaksanaan
Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila
penceramah tersebut dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai
sasaran (dalam arti psikologis), penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai
berikut :
a. Sikap
dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah.
b. Suara
hendaknya cukup keras dan jelas.
c.
Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
d. Berdiri
di depan (di pertengahan), tidak boleh duduk.
e.
Menggunakan alat-alat bantu (AVA) semaksimal mungkin.
2.1.2
Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan
pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari
satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan
biasanya dianggap hangat di masyarakat.
2.2 Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya
kita sebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil antara
lain :
2.2.1
Diskusi Kelompok
Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat
bebas berpartisipasi dalam diskusi maka formasi duduk para peserta diatur
sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang
satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi empat.
Pimpinan diskusi / penyuluh juga duduk diantara peserta
sehingga tidak menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Tepatnya mereka dalam
taraf yang sama sehingga tiap anggota kelompok ada kebebasan / keterbukaan
untuk mengeluarkan pendapat.
Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan
pancingan-pancingan berupa pertanyaan-pertanyaan atas kasus sehubungan dengan
topik yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup, pemimpin kelompok harus
mengarahkan dan mengatur sedemikian rupa sehingga semua orang dapat kesempatan
berbicara sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta.
2.2.2
Curah Pendapat (Brain Storming)
Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok.
Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaannya
pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah kemudian tiap peserta
memberikan jawaban-jawaban atau tanggapan (cara pendapat).
Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis
dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan
pendapatnya, tidak boleh diberi komentar oleh siapa pun. baru setelah semua
anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan akhirnya
terjadilah diskusi.
2.2.3 Bola
Salju (Snow Balling)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang, 2 orang).
Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5
menit, tiap 2 pasang bergabung menjadi 1.Mereka tetap mendiskusikan masalah
tersebut dan mencari kesimpulannya.Kemudian tiap 2 pasang yang sudah
beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian
seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
2.2.4
Kelompok Kecil-Kecil (Bruzz Group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil (buzz
group) kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama / tidak dengan kelompok
lain dan masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya
kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.
2.2.5
Memainkan Peranan (Role Play)
Dalam metode ini, beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai
pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter
puskesmas, sebagai perawat atau bidan dan sebagainya, sedangkan anggota yang
lain sebagai pasien atau anggota masyarakat. Mereka meragakan misalnya
bagaimana interaksi / komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.
2.2.6
Permainan Simulasi (Simulation Game)
Metode ini adalah merupakan gambaran antara role play dengan
diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk
permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain
monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), selain beberan atau
papan main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lagi berperan sebagai
nama sumber.
3. Metode Pendidikan Massa (Public)
Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan
pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau
publik maka cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.
Oleh karena sasaran pendidikan ini bersifat umum dalam arti
tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, sosial ekonomi,
tingkat pendidikan dan sebagainya maka pesan-pesan kesehatan yang akan
disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa
tersebut.
Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah awareness
atau kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi, belum begitu diharapkan
sampai dengan perubahan perilaku. Namun demikian bila sudah sampai berpengaruh
terhadap perubahan perilaku adalah wajar.
Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak
langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Beberapa contoh metode
ini, antara lain :
a.
Ceramah umum (public speaking)
Pada acara-acara tertentu,
misalnya pada Hari Kesehatan Nasional, menteri kesehatan atau pejabat kesehatan
lainnya berpidato di hadapan massa rakyat untuk menyampaikan pesan-pesan
kesehatan. Safari KB juga merupakan salah satu bentuk pendekatan massa.
b.
Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan
melalui media elektronik baik TV
maupun radio, pada
hakekatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
c.
Simulasi, dialog antara pasien dengan
dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah
kesehatan melalui TV atau radio adalah juga
merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa. Contoh "Praktek Dokter
Herman Susilo" di televisi pada waktu yang lalu.
d.
Sinetron "Dokter Sartika"
didalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan
pendidikan kesehatan massa.
e.
Tulisan-tulisan di majalah atau koran,
baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab / konsultasi tentang kesehatan
atau penyakit juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan massa.
f.
Billboard yang dipasang di pinggir
jalan, spanduk, poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan
massa. Contoh billboard "Ayo ke Posyandu"
Alat bantu lihat (visual aids). Alat bantu ini digunakan
untuk membantu menstimulasi indera mata (penglihatan)
pada waktu terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk :
1.
Alat yang diproyeksikan (misalnya,
slide, OHP, dan film strip)
2.
Alat-alat yang tidak diproyeksikan
(misalnya, 2 dimensi, gambar peta, dan bagan) termasuk alat bantu cetak atau
tulis, misalnya leafet, poster, lembar balik, dan buklet. Termasuk tiga dimensi
seperti bola dunia dan boneka).
Alat bantu dengar (audio aids), yaitu alat yang dapat
membantu untuk menstimulasikan indra pendengar pada waktu proses penyampaian
bahan pendidikan/bahan pengajaran. Misalnya : piring hitam, radio, tape, dan
CD. Alat bantu dengar dan lihat, seperti TV, film dan video.
Pembagian Alat Peraga:
·
Media cetak
1.
Booklet. Media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam
bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar.
2.
Leaflet. Bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan
kesehatan melalui lembaran yang dilipat.Isi informasi dapat berupa kalimat,
gambar, atau kombinasi.
3.
Flyer (selebaran), bentuk seperti leaflet, tetapi tidak dilipat.
4.
Flip chart (lembar balik), biasanya dalam bentuk buku, setiap
lembar (halaman) berisi gambar yang diinformasikan dan lembar baliknya
(belakangnya) berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan
gambar tersebut
5.
Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah
yang membahas suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan
kesehatan
6.
Poster. Bentuk media yang berisi pesan-pesan atau informasi
kesehatan yang biasanya ditempel didinding, tempat-tempat umum, atau kendaraan
umum.Biasanya isinya bersifat pemberitahuan dan propaganda.
7.
Foto yang mengungkap informasi kesehatan
·
Media elektronik
Jenis-jenis media elektronik yang dapat digunakan sebagai
media pendidikan kesehatan, antara lain adalah sebagai berikut.
1.
Televisi. Penyampaian pesan kesehatan melalui media televisi
dapat berbentuk sandiwara, sinetron, forum diskusi, pidato (ceramah), TV spot,
dan kuis atau cerdas cermat.
2.
Radio. Bentuk penyampaian informasi diradio dapat berupa
obrolan (tanya jawab), konsultasi kesehatan, sandiwara radio, dan radio spot.
3.
Video. Penyampaian informasi kesehatan melalui video.
4.
Slide. Slide dapat juga digunakan untuk menyampaikan
informasi kesehatan.
5.
Film strip.
·
Media papan (billboard)
Media papan yang dipasang
ditempat-tempat umum dapat diisi pesan-pesan atau informasi kesehatan.Media ini
juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng dan ditempel di
kendaraan umum (bus dan taksi).
·
Media hiburan
Penyampaian informasi kesehatan dapat
dilakukan melalui media hiburan, baik di luar gedung (panggung terbuka) maupun
dalam gedung, biasanya dalam bentuk dongeng, sosiodrama, kesenian tradisional,
dan pameran.
G.
PERILAKU KESEHATAN
Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok
:
1. Perilaku pemeliharaan
kesehatan (health maintenance)
Usaha seseorang untuk memelihara atau
menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
Perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3 aspek :
a. Perilaku pencegahan
penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan
bilamana telah sembuh dari penyakit
b. Perilaku peningkatan
kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.
c. Perilaku gizi (makanan dan
minuman)
2. Perilaku pencarian dan
penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan
Upaya seseorang pada saat menderita
dan atau kecelakaan.Dimulai dari pengobatan sendiri sampai mencari pengobatan
ke luar negeri.
3. Perilaku kesehatan lingkungan
Becker, 1979 membuat klasifikasi
tentang perilaku kesehatan, diantaranya :
a. Prilaku hidup sehat
Kegiatan seseorang untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup :
1. Menu seimbang
2. Olahraga teratur
3. Tidak merokok
4. Tidak meminum-minuman
keras dan narkoba
5. Istirahat yang cukup
6. Mengendalikan stress
7. Perilaku atau gaya hidup
lain yang positif bagi kesehatan.
8. Perilaku sakit
Respon seseorang terhadap sakit dan
penyakit.Persepsinya terhadap sakit pengetahuan tentang penyebab dan gejala
penyakit, pengobatan penyakit dsb.
b. Perilaku peran sakit
Perilaku ini mencakup :
1. Tindakan untuk memperoleh
kesembuhan
2. Mengenal atau mengetahui
fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak.
3. Mengetahui hak, misalnya
memperoleh perawatan.
H.
DOMAIN PERILAKU
Factor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang
berbeda disebut determinan prilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan
menjadi dua, yakni :
1.
Faktor internal
Karakteristik orang yang bersangkutan
yang bersifat bawaan, yaitu :
a. Kecerdasan
b. Tingkat emosional
c. Jenis kelamin
2.
Faktor eksternal
Lingkungan baik fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik
Benyamin Bloom (1908), perilaku
dibagi kedalam 3 dominan, yakni :
a.
Kognitif
b.
Afektif
c.
Psikomotor
Teori Bloom untuk pengukuran hasil
pendidikan kesehatan yakni :
1.
Pengetahuan
Domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang, ialah :
a.
Proses adopsi perilaku
·
Awareness
·
Interest
·
Evaluation
·
Trial
·
Adoption
b.
Tingkatan pengetahuan
·
Tahu
·
Memahami
·
Aplikasi
·
Analisis
·
Sintesis
·
Evaluasi
2.
Sikap
Adalah respon tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Proses terbentuknya sikap dan reaksi, yaitu
:
a.
Komponen pokok sikap
Menurut Allport (1954), ialah :
1. Kepercayaan ide, dan
konsep terhadap suatu objek
2. Kehidupan emosional atau
evaluasi terhadap suatu objek
3. Kecenderungan untuk
bertindak
b.
Berbagai tingkatan sifat
1. Menerima (receiving)
2. Merespon (responding)
3. Menghargai (valuing)
4. Bertanggungjawab
(responsible)
c.
Praktek atau tindakan (practice)
Mempunyai beberapa tingkatan :
1. Persepsi (perception)
2. Respon terpimpin (guid
response)
3. Mekanisme (mechanism)
4. Adopsi (adoption)
I.
PERUBAHAN PERILAKU
Proses yang kompleks dan memerlukan waktu yang relative lama.
Teori perubahan ada 3 tahap :
1.
Pengetahuan
Dikelompokan menjadi :
a.
Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
b.
Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan
c.
Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan
2.
Sikap
Dikelompokan menjadi :
a. Sikap terhadap sakit dan penyakit
b.
Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
c.
Sikap terhadap kesehatan lingkungan
3.
Praktek Dan Tindakan
Indikatornya yakni :
a.
Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit
b.
Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
c.
Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya, setiap orang baik itu individu, keluarga,
kelompok atau pun masyarakat, membutuhkan penyuluhan dan pendidikan kesehatan. Oleh
karena itu para pekerja pelayanan kesehatan harus memberikan
pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat. Namun, hal itu baru dapat
dikatakan berhasil apabila pendidikan
yang diberikan sudah dapat mengubah sikap dan tingkah laku sasaran pendidikan
tersebut. Terlebih dari itu semua, sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat
mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
B. Saran
Para pekerja layanan kesehatan, seharusnya lebih
memperhatikan kesehatan masyarakat, baik itu di lingkungan kerja atau
dilingkungan tempat tinggalnya.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Denman, S. (2002) The Health
Promoting School: Policy, Research and Practice. London : Routledge16.
·
Effendi, Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan
Kesehatan Masyarakat.Edisi 2. Jakarta : EGC.
·
Entjang, I. 1991. Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
·
Mubarak, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.
2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Salemba Medika.
·
Notoatmodjo,
Soekidjo.2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat ; Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta
: Rineka Cipta
·
Smith, J. (2003). Education
and Public Health: Natural Partners in Learning for Life. Association
for Supervision and Curriculum Development (ASCD). USA: Alexandra,
Virginia.
Langganan:
Komentar (Atom)
-
SATUAN ACARA PENYULUHAN Topik : Dismenore Sub Topik : Dismenore pada remaja putri Ha...
-
MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PENDIDIKAN DAN PENYULUHAN KESEHATAN Disusun oleh: Kelompok 6 1. FENTI YOSSI 2. ...










